Di Antara Aku dan Sepi


Ada hari-hari ketika aku merasa benar-benar hidup. Seolah dunia membuka tangannya untuk membuat langkahku menjadi ringan, tawaku lepas, dan aku bisa menyapa siapa saja dengan semangat yang tidak dibuat-buat. Di tengah keramaian, aku menjadi sosok yang periang, penuh cahaya, seakan-akan semua beban lenyap begitu saja.

Namun, ada pula hari-hari ketika hidupku terasa sebaliknya. Mendadak hampa, kosong, dan terasa mati. Aku berjalan, tapi seperti tanpa arah. Aku beraktivitas, tapi semakin sibuk semakin lelah. Aneh, sebab ketika aku berhenti beraktivitas, rasa lelah itu justru kian menumpuk, seolah ada sesuatu dalam diriku yang tidak pernah bisa benar-benar istirahat.

Malam adalah saat paling jujur. Ketika orang-orang telah tertidur, aku sering terbaring sendiri, menangis tanpa suara. Semua keceriaan yang kutampilkan di siang hari mendadak runtuh, menyisakan diriku yang rapuh, kesepian, dan sendirian. Di titik itulah, pertanyaan-pertanyaan yang sama selalu muncul secara bergantian: Apakah semua orang pernah merasakan hal ini? Apakah hanya aku yang berkali-kali larut dalam sepi yang sama? Apakah wajar rasanya hidup seperti ini, naik-turun tanpa pola yang jelas?

Jujur, aku tidak tahu. Bahkan ketika ada yang bertanya mengapa aku bisa seperti ini, aku hanya bisa diam. Karena aku sendiri bingung. Rasanya seperti hidup dalam dua dunia: dunia yang penuh tawa yang kulukiskan untuk orang lain, dan dunia sunyi yang hanya kutanggung seorang diri.

Tapi meski begitu, aku tetap menemukan alasan untuk bersyukur.

Aku bersyukur masih ada hal-hal kecil yang menguatkanku. Make up yang bisa memberiku rasa percaya diri dan menumbuhkan nuansa centilku. Es krim dan cokelat yang jadi penghibur sederhana, seakan sedang memelukku dalam dingin. Warna ungu yang membuat dunia tidak sepenuhnya kelabu. Dan yang paling berharga, orang-orang yang mau memperhatikanku, yang tidak risih ketika aku bersandar pada mereka.

Mungkin mereka tidak tahu betapa besar artinya perhatian kecil itu. Apresiasi sederhana yang mungkin tampak sepele bagi mereka, justru menjadi penopang ketika aku hampir runtuh. Hal-hal kecil itulah yang membuatku tetap merasa ada.

Aku memang lelah.

Aku sering kesepian.

Tapi aku juga tahu, aku masih punya alasan untuk bertahan. Dan mungkin, di balik semua rasa hampa ini, ada sesuatu yang sedang membentukku menjadi diriku yang sebenarnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama